::Home
    Agenda
    Kegiatan Rutin
    Liputan
    Renungan
    Tentang PUKAT
    Sejarah PUKAT
    Struktur Organisasi
    Personal Social Responsibility
    KEGIATAN
    Cawan Getsemani
    Forum Bisnis dan Intelektual
    BASOKA
    Misa Profesional & Usahawan
    Misa Bahasa Inggris
    Seminar Bisnis
    Pukat Mandiri
    The Guidance
    Coffee Morning
    Hubungi Pukat





MISA PROFESIONAL DAN USAHAWAN, NOVEMBER 2014



... [selengkapnya]

Renungan Hari Sabtu, 04 Nopember 2014

PERTOBATAN

Marilah, baiklah kita berperkara, firman Tuhan, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yesaya 1:18)

Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang tidak berdosa, namun yang membedakan adalah, ada yang mau mengakui dan datang kepada Tuhan dan ada juga yang menganggap dosa itu biasa, oleh karena itu tidak perlu mengakui dan datang kepada Tuhan. Sebenarnya, pintu pengampunan Tuhan itu selalu terbuka, tidak ada dosa atau kejahatan sebesar apa pun dan macam apa pun, yang dinyatakan 'dilarang masuk'.

Hanya saja, jangan lalu kita bersikap menggampangkan. Ada dua persyaratan tertentu yang mesti dipenuhi terlebih dahulu. Pertama, kita harus membereskan dulu masa lalu kita, kejahatan yang kita lakukan, orang lain yang kita sakiti, merugikan orang lain, kita harus menyadarinya itu, sesadar-sadarnya. Tapi bukan hanya sampai di situ, kita harus mengakui bahwa yang kita lakukan itu salah, jahat.

Persyaratan kedua, nabi Yesaya menuliskan dalam ayat selanjutnya, sabda Tuhan, 'Jika kamu menurut dan mau mendengar', artinya, bukan cuma harus ada 'penyesalan', tetapi mesti pula ada 'pertobatan'.

Penyesalan menyangkut kejahatan atau dosa yang kita lakukan di masa lampau, ia menoleh ke belakang sedangkan pertobatan itu menyangkut tekad dan tindakan kita untuk menjadi lebih baik sedari sekarang, ia menatap ke depan.

Keduanya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, penyesalan itu tidak cukup sekedar dinyatakan melalui cucuran air mata meratapi yang telah lalu, melainkan harus dibuktikan melalui sikap, ucapan dan tindakan berbeda, yang lebih baik, yang baru.

Tuhan selalu membuka pintu bagi rehabilitasi dan rekonsiliasi, asal kita mau menghampirinya, menyesal dan bertobat.

Tuhan Yesus memberkati.


Renungan Hari Sabtu, 30 September 2014

MENJADI GARAM DAN TERANG DUNIA

Warna abu-abu merupakan campuran hitam dan putih, abu-abu dipakai sebagai kiasan mengenai sesuatu yang tidak jelas posisinya, tidak di hitam, tidak di putih, tidak baik, tidak jahat, percaya tidak, tidak percaya juga bukan, banyak orang mengira bahwa berada di zona abu-abu ini adalah win-win solution, ini pilihan yang tepat ketika seseorang takut kehilangan sesuatu sementara ia masih diliputi keraguan.

Memang, cara yang aman ketika menghadapi konflik adalah dengan bersikap netral, tidak berpihak. Gereja juga acapkali mengambil sikap untuk tidak berpihak, juga ketika masalah keadilan dan kebenaran dipersoalkan. Kita, seringkali seperti Pilatus, lebih suka mencuci tangan dari pada mengambil resiko karena berani memilih

Sering kita tidak sadari, bahwa dengan begitu, seperti Pilatus pula, kita menyerahkan Yesus untuk disesah dan disalibkan. Salah satu alasannya, karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak. Kita juga seringkali seperti Pilatus, tidak berani dengan jelas berpihak pada keadilan, sesungguhnya kita menyerahkan keadilan untuk disesah dan disalibkan.

Yesus tidak menginginkan umat-Nya hidup aman dalam kamar isolasi yang bebas hama, Ia mengutus kita ke dalam dunia untuk menjadi garam dan terang, bukan untuk mencari aman dan cuci tangan.

Tuhan Yesus memberkati.





 Arsip: